Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Agustus 2018

Tribulasi


Anti Kristus akan berkuasa dan menandatangani pakta perdamaian (perjanjian) dengan Israel untuk masa tujuh tahun (Daniel 9:27). Masa tujuh tahun ini dikenal sebagai masa Tribulasi (kesengsaraan). Dalam masa Tribulasi ini akan terjadi peperangan, kelaparan, wabah dan berbagai bencana alam. Tuhan mencurahkan murkanya terhadap dosa dan kejahatan. Tribulasi menjadi tempat untuk ke empat penunggang kuda dalam Wahyu dan ke tujuh meterai, sangkakala dan cawan murka Allah.

Tribulasi adalah masa 7 tahun yang akan datang di mana Tuhan akan mengakhiri masa pendisiplinan terhadap Israel dan menyelesaikan penghakiman terhadap dunia yang tidak percaya. Gereja, yang terdiri dari semua orang yang telah percaya pada pribadi dan karya Tuhan Yesus yang menyelamatkan mereka dari hukuman dosa, tidak akan ada dalam dunia pada saat Tribulasi. Gereja akan diangkat dari dunia ini dalam peristiwa yang disebut Pengangkatan orang percaya (1 Tesalonika 4:13-18; 1 Korintus 15:51-53). Gereja dilepaskan dari murka yang akan datang (1 Tesalonika 5:9). Dalam Alkitab, Tribulasi disebut dengan berbagai nama, seperti misalnya:

1. Hari Tuhan (Yesaya 2:12; 13:6, 9; Yoel 1:15; 2:1, 11, 31, 3:14; 1 Tesalonika 5:2)
2. Kesusahan atau kesengsaraan (Ulangan 4:30; Zefanya 1:15)
3. Kesengsaraan besar yang menunjuk pada masa yang paling berat pada bagian akhir dari masa 7 tahun (Matius 24:21).
4. Hari atau waktu kesesakan (Daniel 12:1; Zefanya 1:15).
5. Waktu kesusahan bagi Yakub (Yeremia 30:7)

Untuk memahami tujuan dan waktu dari Tribulasi, kita perlu mengerti Daniel 9:24-27. Bagian dari kitab Daniel ini berbicara mengenai 70 minggu yang telah ditetapkan atas “bangsamu.” “Bangsa” Daniel adalah orang-orang Yahudi, bangsa Israel, dan yang dikatakan oleh Daniel 9:24 adalah masa yang Tuhan berikan untuk “melenyapkan kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan kesalahan, untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nabi, dan untuk mengurapi yang maha kudus.”  Tuhan menetapkan “70 minggu” untuk menggenapi semua ini. Adalah penting untuk dimengerti bahwa ketika disebutkan “70 minggu” yang dimaksudkan bukan minggu sebagaimana kita ketahui (7 hari). Kata Bahasa Ibrani (heptad) yang diterjemahkan sebagai minggu dalam Daniel 9:24-27 secara harafiah berarti “7” dan 70 minggu secara harafiah berarti 70 kali 7.

Masa yang Tuhan bicarakan ini sebenarnya adalah 70 kali 7 tahun atau 490 tahun. Ini dikonfirmasikan oleh ayat lain dalam kitab Daniel. Dalam ayat 25 dan 26 Daniel diberitahukan bahwa sang Mesias akan disingkirkan selama 7 minggu dan 62 minggu (total 69 minggu) mulai dari perintah untuk membangun kembali Yerusalem. Dengan kata lain 69 x 7 tahun (483 tahun) setelah perintah untuk mendirikan Yerusalem, Mesias akan disingkirkan. Sejarahwan Alkitab mengkonfirmasikan bahwa 483 tahun telah berlalu sejak dari saat perintah untuk mendirikan Yerusalem sampai saat Yesus disalibkan. Kebanyakan sarjana Kristen, apapun pandangan eskatologis (masa-masa/peristiwa-peristiwa yang akan datang) mereka, memahami 70 minggu dalam kitab Daniel dengan pengertian yang sama dengan yang telah diuraikan di atas.

Dengan berlalunya 483 tahun dari perintah untuk mendirikan Yerusalem sampai pada penyingkiran Mesias, maka hanya tinggal 1 minggu (7 tahun) dari Daniel 9:24 yang masih harus digenapi “untuk melenyapkan kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan kesalahan, untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nabi, dan untuk mengurapi yang maha kudus.” Masa 7 tahun yang terakhir ini dikenal sebagai masa Tribulasi – masa di mana Tuhan akan mengakhiri penghakiman atas Israel karena dosa-dosa mereka.

Daniel 9:27 memberi beberapa pokok-pokok penting dalam masa 7 tahun Tribulasi. Daniel 9:27 mengatakan “Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, sampai pemusnahan yang telah ditetapkan menimpa yang membinasakan itu." Pribadi yang dibicarakan dalam ayat ini adalah yang disebutkan oleh Yesus sebagai “Pembinasa keji” (Matius 24:15) dan disebut binatang dalam Wahyu 13. Daniel 9:27 mengatakan bahwa binatang itu akan menempatkan patung dirinya di tempat suci dan menuntut dunia untuk menyembah dia. Wahyu 13:5 menjelaskan bahwa ini akan terjadi selama 42 bulan, yaitu 3½ tahun. Karena Daniel 9:27 mengatakan bahwa ini akan terjadi pada tengah minggu, dan Wahyu 13:5 mengatakan bahwa binatang ini akan melakukan hal ini untuk masa 42 bulan, adalah mudah untuk melihat bahwa total lamanya adalah 84 bulan atau 7 tahun. Lihat pula Daniel 7:25 di mana “satu masa, dua masa dan setengah masa” (satu masa = 1 tahun; dua masa = 2 tahun; setengah masa = ½ tahun; keseluruhannya 3½ tahun) juga merujuk pada Kesengsaraan Besar, bagian terakhir dari 7 tahun Tribulasi ketika “kekejian yang menyebabkan kebinasaan” (binatang) akan berkuasa.

Untuk referensi lebih lanjut mengenai Tribulasi, lihat Wahyu 11:2-3 yang berbicara mengenai 1,260 hari dan 42 bulan, dan Daniel 12:11-12 yang berbicara mengenai 1, 290 hari dan 1,335 hari yang kesemuanya menunjuk pada pertengahan Tribulasi. Hari-hari selebihnya dalam Daniel 12 mungkin termasuk masa pada akhir dari penghakiman terhadap bangsa-bangsa (Matius 25:31-46) dan masa untuk mendirikan Kerajaan Seribu Tahun milik Kristus (Wahyu 20:4-6).

Kurang lebih setengah dari masa 7 tahun, antikristus akan melanggar perjanjian damai dengan Israel dan berperang dengan mereka. Antikristus akan melakukan kekejian yang membinasakan dan membuat patung dirinya untuk disembah di tempat kudus (Daniel 9:27, 2 Tesalonika 2:3-10). Bagian kedua dari Tribulasi dikenal sebagai Kesengsaraan Besar dan waktu kesusahan bagi Yakub.

Pada akhir dari tujuh tahun Tribulasi, antikristus akan melakukan serangan terakhir terhadap Yerusalem yang memuncak pada Perang Harmagedon. Yesus Kristus akan datang kembali, membinasakan antikristus dan bala tentaranya dan membuang mereka ke dalam lautan api (Wahyu 19:11-21). Kristus akan membelenggu Iblis dalam jurang maut untuk 1000 tahun dan akan memerintah di atas bumi selama 1000 tahun (Wahyu 20:1-6).

Di Alkitab tentang masa aniaya orang percaya (Tribulasi) menunjuk pada tiga pengertian yaitu: Pertama: Bahwa gereja Tuhan tidak akan luput dari aniaya sepanjang zaman. Kalau dunia membenci orang percaya karena memang orang percaya bukan berasal dari dunia ini. Sama seperti Yesus Kristus bukan berasal dari dunia demikian juga orang percaya. Tuhan akan meluputkan orang percaya karena Dia selalu menyertai gerejaNya sepanjang zaman gereja (Yohanes 16:32-33, Yohanes 17:16). Kedua: Pengertian akan datang penganiayaan besar akan menimpa orang percaya. Dunia akan dibawah kekuasaan antikris dan menganiaya semua orang percaya supaya menolak Yesus sebagai Tuhan. Orang percaya akan dianiaya untuk dapat murtad supaya menyembah dia bahkan banyak yang akan mengalami penganiayaan dalam mempertahankan Nama Kristus, mereka akan mati syahid dimasa tribulasi (Wahyu 3:10, 1 Tes.5:9, Wah.6:12-17). Kalau ada masa aniaya akan dialami oleh orang percaya dan mengalami puncak selama satu masa dan dua masa dan setengah masa atau 3,5 tahun. Tuhan berjanji akan melindungi orang percaya (Gerika: "Ek" atau "out of") dari pencobaan berat yang akan menimpa seluruh dunia. Antikris atau si naga yang menjadi penguasa pada masa tribulasi tidak dapat menganiaya orang percaya yang benar karena perlindungan Tuhan. Dikatakan bahwa gereja Tuhan akan diterbangkan dengan dua sayap burung nasar untuk dilindungi oleh Tuhan selama 3,5 tahun (Wahyu 12:14). Ketiga: Dari nubuatan 70 minggu untuk Israel bahwa 69 minggu telah digenapkan sampai kepada Yesus Sang Messias diurapi pada usia 30 tahun. Kemudian satu minggu yang terakhir merupakan minggu penganiayaan atas Israel setelah sang raja penguasa tribulasi menghentikan korban di Bait Allah (Dan.9:25-27). Perjanjian itu menjadi berat dan sejak itu terjadi penganiayaan atas Israel. Karena itu menurut paham ini sebelum antikris berkuasa dan menganiaya bangsa Israel maka mereka percaya bahwa Bait Allah Yerusalem harus dibangun kembali.

Ketiga pandangan tentang masa aniaya diatas jelas berbeda satu dengan yang lain. Melalui nubuatan Daniel khusus untuk bangsa Israel bahwa minggu yang ke tujuh puluh adalah satu kesempatan terakhir yang Allah berikan bagi bangsa ini untuk memulihkan segala sesuatu. Kita harus ingat bahwa bangsa Israel sampai hari ini secara bangsa tetap masih memegang Taurat Musa dan tetap menolak Yesus Kristus sebagai Messias. Itulah sebabnya mereka yakin tentang pembangunan Bait Allah harus segera dimulaikan. Sedangkan minggu ke 70 khusus untuk bangsa Israel, kami juga percaya bahwa setelah jaman bangsa-bangsa berakhir maka rencana Allah akan kembali kepada Israel (Roma 11:25-26). Kalau minggu terakhir (ke 70) bagi keyakinan Israel diperuntukkan untuk pemulihan mereka yaitu pembangunan Bait Allah dan dimulainya lagi ibadah didalamnya sesuai keyakinan mereka, itu berarti suatu pengungkapan misteri bahwa Israel akan menerima Yesus sebagi Messias sehingga Bait Allah yang akan dibangun pasti menjadi Bait Allah dihadapan Allah. Perhatikan nubuatan bahwa Allah akan mengumpulkan mereka kembali dan memberi mereka hati yang lain dan roh yang baru didalam bathin mereka dan mereka akan hidup taat. Satu nubuatan tentang pertobatan bangsa Israel di minggu terakhir, mereka berkesempatan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Messias (Yeh.11:17-19, Rom.11:25-26).

1. Pengungkapan misteri minggu ke 70. Daniel 9:27. Banyak penafsir langsung menempatkan bahwa raja itu adalah si antikris sehingga mereka mengajarkan bahwa masa antikris adalah 7 tahun sesuai dengan minggu terakhir dalam minggu ke 70. Karena itu bagi penafsir yang percaya masa antikris ialah 7 tahun, percaya bahwa Bait Allah di Yerusalem harus dibangun kembali. Sebab ditengah minggu si antikris akan membuat perjanjian akan menjadi berat dengan mengehentikan korban sembelihan di Bait Allah. Disinilah penyebabnya, mereka menafsir tentang kuda putih dan penunggangnya dalam Wahyu 6:2, bahwa itu adalah antikris dengan segala kemenangannya. Karena sebelum antikris menghentikan korban sembelihan di Bait Allah dan akan duduk didalmnya untuk minta disembah sebagai Tuhan dan menguasai dunia, maka dia harus memperoleh kemenangan terus untuk membangun pemerintahan dunia dan disembah sebagai Allah (Wahyu 6:1-17, 2 Tes.2:1-8).

- Mereka menafsir bahwa raja itu adalah si antikris yang akan berperan penuh selama satu kali 7 masa atau 7 tahun, itulah sebabnya mereka langsung membangun ajaran sesuai dengan nubuatan Daniel 9:27, bahwa masa antikris selama 7 tahun yaitu penggenapan minggu ke 70.

- Sesuai dengan penafsiran tentang nubuatan, maka bagi tafsiran ini Bait Allah Yerusalem harus dibangun, karena antikris akan menghentikan korban di pertengahan minggu (setelah 3,5 tahun), kemudian dia akan duduk di Bait Allah tersebut dan memerintah dunia serta minta disembah sebagai Allah (2 Tes. 2:1-7).

- Sebelum antikris duduk di Bait Allah dan minta disembah sebagai Allah, dia harus mendapatkan kemenangan. Karena itu tafsiran tentang Kuda Putih dalam Wahyu 6:2, bahwa Kuda Putih tersebut adalah antikris.

Kelemahan tafsiran tentang masa aniaya adalah 7 tahun yaitu penempatan langsung minggu ke 70 di penghujung zaman sebelum kedatangan Yesus kedua kali, sebagai berikut.

Pertama: Mereka menafsir bahwa raja itu dalam ayat 27 adalah oknum antikris. Kata "Raja Itu" mestinya ada hubungan dengan ayat-ayat sebelumnya (baca Dan.9:25-27). Dengan menafsir Raja Itu adalah oknum antikris maka ayat 27 menjadi berdiri sendiri terpisah dari ayat-ayat sebelumnya. Sedangkan Daniel 9:25-27 ialah nubuatan 70 minggu merupakan satu kesatuan yang saling menggenapkan. Dengan menafsir bahwa raja itu adalah antikris telah meninggalkan kontekstual dari nubuatan itu sendiri.

Kedua: Nubuatan masa aniaya tujuh tahun telah memaksakan suatu kebenaran yang keliru dengan akan dibangunnya Bait Allah dimana sebentar perjanjian akan menjadi berat sebab antikris akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan. Itu berarti, bahwa tafsiran ini masih percaya bahwa kebenaran taurat tentang penyembelihan binatang sebagai pokok ibadah masih berlaku kepada bangsa ini. Sedangkan penghancuran Bait Allah oleh Titus telah dinubuatkan oleh Yesus untuk menghentikan semua korban sembelihan binatang. Setelah kematian Kristus Yesus sebagai Anak Domba Allah, maka Allah membenci semua korban sembelihan. Kebenaran Taurat tidak ada lagi, semua telah digenapkan didalam Tuhan Yesus Kristus (Yoh.1:29, Ibr.9:13-14, 10:1, 4).

Ketiga: Penafsir masa aniaya 7 tahun tidak menempatkan peranan Yesus sebagai Juruselamat dalam tafsiran 70 minggu, sebab memisahkan ayat 27 dan ayat-ayat sebelumnya. Karena penjelasan karya Kristus untuk menghentikan korban-korban sembelihan dan menggenapkan Taurat justru terletak pada ayat 27 tersebut. "Raja itu membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali 7 masa. Pada pertengahan 7 masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan...". Secara hurufiah tafsiran masa aniaya 7 tahun begitu jelas dapat diterima. Tetapi tafsiran 7 tahun tribulasi banyak meninggalkan hakekat kebenaran terutama tidak menempatkan peranan karya Kristus dan kebenaranNya sebagai pokok nubuatan. Diantaranya masih menempatkan Taurat sebagai kebenaran Israel.

Pandangan kedua: Daniel 9:27, bahwa Raja Itu, keterangan ayat 25, menunjuk pada Yesus Kristus (Yang Diurapi). Membuat perjanjian menjadi berat bagi semua orang yaitu ketika Yesus menunjuk diriNya sebagai Messias dan sebagai Allah sangat melukai keyakinan kepercayaan agama Yahudi yang "Monotheisme". Yesus Kristus sebagai Messias dan memproklamasikan misiNya membuat bangsa Israel sangat tersinggung. Hal-hal yang memberatkan Israel menerima misi Yesus adalah:

- Dia menyatakan diriNya sebagai Tuhan dan menghancurkan theologi Israel yang monotheisme, yaitu kepercayaan kepada Allah yang esa. Konsep Allah yang Tritunggal belum dipahami pada waktu itu. Pengakuan Yesus sebagai Tuhan dan Messias, dianggap telah menghujat Allah. Itulah sebabnya, misi Yesus sebagai Juruselamat ditolak bangsa ini (Yoh.12:45, 14:9). Pengakuan Yesus Kristus sebagai Messias dan Tuhan dianggap sebagai menghujat Allah (Imamat 24:16). Karena itu Yesus Kristus ditolak dan harus dihukum mati. Benarlah nubuatan Firman Allah, pengungkapan misi Yesus sebagai perjanjian yang baru tidak menyenangkan orang banyak. Yesus Kristus harus ditolak dan dihukum mati. Kematian Yesus Kristus sebagai Domba Allah terjadi setelah Dia melayani 3,5 tahun lamanya. Dia mati ditengah minggu untuk menghentikan korban sembelihan dan santapan sebab Dia sebagai penggenap semua sistem korban dalam Taurat (Ibrani 9:11-14).

- Konsep Messias bagi Israel adalah datangnya seorang raja akan menetapkan kembali tahta Daud dan sekaligus melepaskan dan membebaskan Israel dari penindasan dan pendudukan kerajaan Romawi. Sejak penghancuran dan pembuangan Israel ke Babel oleh Raja Nebukadnezar (tahun 606 SM), maka bangsa ini silih berganti dijajah oleh raja-raja asing. Mereka merindukan satu Messias untuk membebaskan dan menjadikan Israel kembali menjadi kerajaan besar berdaulat ditakuti negeri sekitar seperti pada zaman Raja Daud.

Ketika Yesus memproklamasikan diri sebagai Messias dan Juruselamat dalam arti rohani maka bangsa ini kecewa. Bahkan menuduh Dia menghujat Allah. Murid-murid Yesus sekalipun sebelum hari kepenuhan Roh Kudus dalam hati sanubari menganggap bahwa Yesus Kristus sebagai Messias penerus tahta Daud. Ketika Yesus hendak terangkat ke surga, mereka dengan diam-diam bertanya-tanya, "Maka bertanyalah mereka yang berkumpul disitu: "Tuhan maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" (Kisah 1:6). Israel telah salah kaprah tentang arti Messias yang sebenarnya. Messias diartikan secara lahiriah, sebagai Juruselamat kerajaan dan bangsa Israel lahiriah. Dia telah dibuang, namun telah menjadi Batu Penjuru (1 Petr. 2:6-7).

- Setelah penolakan Israel kepada Yesus sebagai Messias, Israel masih terus mempersembahkan korban sembelihan di Bait Allah. Walaupun ketika Yesus mati sebagai Messias bahwa tirai Bait Allah yang memisahkan ruangan maha kudus tercabik dari atas ke bawah yang berarti bahwa semua telah genap didalam Yesus Kristus dan Allah tidak berkenan lagi akan korban-korban sembelihan dan santapan (Matius 27:51, Keluaran 26:31-33).

Karena itu pelayanan Yesus selama 3,5 tahun yang berakhir pada pertengahan 7 tahun, adalah penggenapan 1/2 minggu dari minggu yang ke 70 (minggu terakhir). Pekerjaan Yesus sebagai Messiaslah yang menghentikan semua korban sembelihan dan santapan di tengah minggu. Yesus setelah melayani 3,5 tahun maka Dia mati untuk menggenapkan Taurat dan menghentikan semua korban sembelihan dan santapan. Dia datang untuk menggenapkan hukum Taurat (Yoh.1:29, Ibr.9:11-14, Dan.9:27).

Selanjutnya, "Diatas sayap kekejian akan datang yang membinasakan" mempunyai arti pengertian ganda. "Diatas sayap kekejian" dalam bahasa Inggris "The overspreading of abominations (KJV)" Overspread (Ibr.Kanaph), berarti ujung dari satu bentangan, "A wing of bird" suatu bentangan atau jangkauan, seperti sayap burung yang mempunyai ujung jangkauan.

Setelah kematian Kristus dan tirai yang memisahkan tempat maha kudus telah tercabik, tetapi Israel terus melanjutkan ibadah Taurat dan penyembelihan binatang yang menerbitkan kemurkaan Allah, berjalan terus. Allah mensifatkan hal tersebut sebagai sayap kekejian. Atau bentangan waktu yang menerbitkan kekejian Allah. Pelaksanaan penyembelihan berjalan terus selama 40 tahun mengundang kemurkaan Allah dan akhirnya Allah mengutus jenderal Titus panglima Romawi datang membinasakan Yerusalem dan Bait Allah didalamnya.

Walaupun Bait Allah telah dihancurkan dan Israel tersebar keseluruh bumi tetapi mereka tetap menolak Yesus sebagai Messias. Bahkan sampai hari ini mereka masih merindukan untuk membangun Bait Allah itu kembali dan melanjutkan ibadah berupa penyembelihan binatang. Secara lahiriah mereka tidak lakukan itu, tetapi didalam hati mereka masih memegang teguh aturan Taurat dan merindukan bait Allah dibangun, kemudian mengadakan penyembelihan seperti dahulu. Selama mereka menolak Yesus sebagai Messias dan berpegang pada aturan Taurat.

2. Antikris berkuasa selama 3,5 tahun. Raja itu ialah Tuhan Yesus Kristus yang telah menghentikan korban sembelihan ditengah minggu. Pelayanan Yesus Kristus selama 3,5 tahun di bumi sudah menggenapkan setengah dari satu minggu terakhir. Diikuti oleh satu bentangan waktu "Diatas sayap kekejian" atau "The overspreading of abominations", akan datang yang membinasakan. Pengertian melalui satu bentangan waktu akan datang yang membinasakan digenapkan dalam rangkap dua. 

Rabu, 01 Agustus 2018

Pembenaran Oleh Iman

Doktrin pembenaran oleh iman memainkan peran sentral dalam reformasi protestan, dan ini merupakan perbedaan mendasar antara Katolik Roma dan Protestan. Ada banyak perbedaan lain, seperti liturgi, pemujaan Maria, doa kepada orang-orang kudus, penebusan dosa, api penyucian dan lain sebagainya. Namun sejauh ini perbedaan yang paling krusial antara Katolik Roma dan Protestan adalah mengenai pembenaran oleh iman ini.

Pada Konsili Trente (tahun 1547), Gereja Katolik Roma menanggapi Reformasi Protestan, termasuk doktrin pembenaran oleh iman. Kanon dan dekrit dari Trente mewakili ajaran resmi Gereja Katolik sampai hari ini. Konsili Vatikan II pada tahun 1960 menyatakan bahwa doktrin-doktrin ini “tidak dapat diperbaiki.” Trente tidak menyangkal bahwa kita diselamatkan oleh Anugerah Allah melalui iman. Tetapi ia menambahkan karya iman dengan menggabungkan pembenaran (berdiri benar dihadapan Allah) dengan pengudusan (pertumbuhan kita dalam kesucian setelah dibenarkan) dan dengan membuat pembenaran suatu proses yang sebagian bergantung pada pekerjaan baik kita.


Beberapa isinya sebagai berikut : Jika ada orang yang mengatakan bahwa hanya dengan iman orang yang berdosa dibenarkan, sedemikian bijaksana artinya, bahwa tidak ada hal lain yang diperlukan untuk bekerja sama dalam rangka memperoleh anugerah pembenaran,…biarlah dia menjadi laknat. (sesi 6, kanon 9, in Philip Schaff, The Creeds of Christendom [Baker], 2:112.)

Jika ada orang yang mengatakan, bahwa dibenarkan karena iman tidak ada yang lain hanya keyakinan akan rahmat ilahi yang mengampuni dosa demi Kristus; atau bahwa keyakinan ini saja yang membuat kita dbenarkan, biarkan dia menjadi kutukan. (sesi 6, kanon 12, in Philip Schaff, The Creeds of Christendom [Baker], 2:113.)

Jika ada yang berkata, bahwa keadilan yang diterima tidak diperhitungkan dan juga meningkat di hadapan Tuhan melalui perbuatan baik; tetapi bahwa karya-karya tersebut hanyalah buah dan tanda-tanda pembenaran yang diperoleh, tetapi bukan penyebab peningkatannya: biarkan dia menjadi laknat. (sesi 6, kanon 24, in Philip Schaff, The Creeds of Christendom [Baker], 2:115.)

Jika ada yang mengatakan, bahwa, setelah anugerah pembenaran telah diterima, bagi setiap pendosa yang berdosa, kesalahan itu diserahkan, dan hutang hukuman kekal dihapuskan dengan sedemikian bijaksana sehingga tidak ada lagi hutang hukuman temporal yang akan dibuang baik di dunia ini, ataupun di depan api penyucian, sebelum pintu masuk ke Kerajaan Surga dapat dibuka [baginya]: biarkan dia menjadi laknat. (sesi 6, kanon 30, in Philip Schaff, The Creeds of Christendom [Baker], 2:117.)

Dengan kata lain, Gereja Katolik menyatakan bahwa kita dibenarkan di hadapan Allah oleh kasih karunia melalui iman, tetapi tidak melalui iman saja, perbuatan baik kita harus ditambahkan kepada iman itu agar dapat terjaga dan meningkatkan hak kita di hadapan Allah. Proses ini tidak selesai pada titik awal iman di dalam Kristus, dan bahkan tidak dalam kehidupan ini, tetapi hanya di api penyucian. Dengan demikian Gereja Katolik menyangkal kecukupan iman orang berdosa yang bersalah hanya melalui pengorbanan Kristus sebagai sarana untuk berdiri benar di hadapan Allah. 

Kebanyakan orang memiliki gagasan bahwa ketika tiba waktunya hari penghakiman, Tuhan, yang mereka anggap sebagai Tuhan yang “baik” tidak akan keras selama seseorang tulus dan telah berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi orang baik. Dengan kata lain, orang menarik Tuhan dari posisi kebenaran absolutnya seperti yang dinyatakan dalam Alkitab dan membuatNya menjadi toleran terhadap beberapa dosa, asalkan itu tidak terlalu buruk (oleh standar manusia). Dan, mereka mengangkat manusia berdosa dari kondisi permusuhan mereka terhadap Tuhan seperti yang dinyatakan dalam Kitab Suci dan menjadikan mereka pada dasarnya orang baik yang bermaksud baik. Jadi mereka secara salah menyimpulkan bahwa “Tuhan yang baik” akan baik dan membiarkan “orang-orang yang baik” ke surga terlepas dari kesalahan mereka.
Dalam Roma 3:20 Paulus mengatakan bahwa tidak seorang pun yang dapat dibenarkan  di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa, bahwa tidak ada yang benar (3:10) dan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (3:23). Tetapi Allah dalam kemurahan-Nya memberikan pembenaran melalui Yesus (3:26). Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk dibenarkan di mata Tuhan adalah dengan iman (3:28)


Arti alkitabiah dari kedua kata Ibrani dan Yunani yang digunakan untuk kata “membenarkan” adalah, “untuk mengucapkan, menerima, dan memperlakukan dengan adil, yaitu sebagai, di satu sisi, tidak bertanggung jawab secara hukum dan di sisi lain berhak atas semua hak istimewa karena mereka yang telah menaati hukum. Oleh karena itu, ini adalah istilah forensik, yang menunjukkan tindakan Yudisial dalam mengatur hukum, dalam hal ini menyatakan putusan bebas dan dengan demikian mengecualikan semua kemungkinan hukuman. Pembenaran dengan demikian menetapkan status hukum dari orang yang dibenarkan. Pembenaran tidak berarti menjadikan orang benar, seperti yang diajarkan Gereja Katolik, tetapi sebaliknya, menyatakan orang benar. Ini adalah istilah hukum yang digunakan oleh Paulus, dan itu memiliki dua aspek; secara positif, orang berdosa dinyatakan atau diperhitungkan sebagai orang benar (Roma 4:3,5); secara negative, dosa-dosanya benar-benar diampuni (Roma 4:7,8). Dasar untuk transaksi hukum ini adalah darah yang dicurahkan oleh Yesus Kristus yang kematianNya memuaskan keadilan Allah yang adil (Roma 3:24-26).

Pada abad pertama Yudaisme, Abraham dianggap sebagai model ketaatan kepada Tuhan. Yosefus pernah mengatakan, “Abraham adalah orang yang memiliki kebajikan yang tak tertandingi, dan dihormati oleh Allah atas kesalehannya. Orang-orang Yahudi melihat kejadian 26:5 sebagai bukti lebih lanjut, karena ketaatan Abraham kepada Allah, maka Allah berjanji memberkati Ishak. Paulus mengerti betul bahwa dalam pikiran orang Yahudi, jika ada yang dibenarkan oleh perbuatan, maka itu adalah Abraham.

Mengenai pembenaran ini, Paulus memberikan dua argumen, satu secara logis dan satu lagi secara Alkitabiah. Argumen logisnya mengambil konsep dalam Roma 3:27 “memegahkan diri,” Paulus mengatakan jika Abraham dibenarkan karena perbuatan, maka Abraham memiliki sesuatu untuk dibanggakan. Paulus mematahkan argumen orang-orang Yahudi dengan menunjukkan bahwa meskipun seseorang dapat membanggakan diri di depan orang lain, namun mereka tidak akan dapat membanggakan diri di hadapan Allah. Kalaupun Abraham dibenarkan karena perbuatan (walaupun sesungguhnya tidak demikian), iapun tidak dapat membanggakannya dihadapan Allah. Argumen secara Alkitab disampaikan oleh Paulus melalui Kejadian 15:6 yang mengatakan “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Ini adalah sebuah doktrin yang dinyatakan secara jelas di dalam Alkitab. Ini semakin meneguhkan apa yang dikatakan oleh Paulus bahwa kita dibenarkan oleh iman, karena dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa Abraham juga dibenarkan oleh iman. Abraham telah memasuki posisi yang benar dengan Tuhan bahkan sebelum masa ini, tetapi ini dinyatakan disini untuk menunjukkan bahwa dari awal sampai akhir, seseorang diterima oleh Allah semata-mata karena anugerah Allah yang diberikan kepada orang tersebut. Bahkan Rasul Paulus mengutip ayat ini dua kali (Roma 4:3, Galatia 3:6) ketika ia menjelaskan bagaimana seseorang menjadi benar dihadapan Allah.

Namun, orang harus menyadari bahwa argumen dalam Alkitab ini tidak akan meyakinkan bagi orang Yahudi karena mereka biasanya melihat iman Abraham hanya melalui perbuatan. Maka Paulus menjelaskan perbedaan antara dibenarkan karena iman dan karena perbuatan, untuk lebih menegaskan maksud dalam Kejadian 15:6 tersebut.

Paulus melanjutkan penjelasannya mengenai pesan yang dimaksud dalam Kitab Kejadian. Kunci untuk penjelasan Paulus adalah dalam istilah “diperhitungkan” dan “dipercaya.” Kata “diperhitungkan” berarti memperhitungkan atau mengkreditkan sesuatu kepada seseorang. Pekerjaan mereka dapat diperhitungkan sebagai pembayaran untuk apa yang sudah mereka kerjakan dan mereka menganggap itu sebagai hutang, atau mereka dapat diperhitungkan dengan kebenaran hanya karena mereka mempercayai Tuhan. Dalam pernyataannya yang lebih luas melalui Roma 3:24 bahwa pembenaran adalah hasil dari kasih karunia atau anugerah. Paulus menunjukkan bahwa jika pembenaran didasarkan pada perbuatan, maka itu tidak akan bebas. Kata “Karunia atau Anugerah” ini sangat signifikan karena ini menunjukkan bahwa kebenaran “diberikan” untuk “keyakinan” adalah sebuah pemberian atau anugerah. Ini berhubungan dengan prinsip bahwa pembenaran adalah hasil dari anugerah. Dengan kata lain, Abraham diperhitungkan dengan kebenaran yang tidak pantas diterimanya.Pembenaran Abraham semata-mata karena imannya.

Paulus memberikan contoh lainnya melalui kehidupan Daud. Orang-orang Yahudi sangat menghormati Daud. Daud adalah manusia yang sangat dikasihi oleh Tuhan. Paulus mengutip dari Mazmur 32:1-2. Bagian ini membuat semakin jelas bahwa pengabdian atau kebenaran yang diperhitungkan kepada Daud bukan bagian dari sebuah hutang. Daud mengucapkan berkat kepada orang yang kepadanya kebenaran itu diberikan diluar dari perbuatan.

Konteks Mazmur 32 dan kutipan Paulus dalam Roma 4:7 adalah dosa yang dilakukan Daud dengan Bathsheba. Daud sudah melakukan dosa. Tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali meminta pengampunan kepada Tuhan. Paulus menyatakan bahwa Allah berbelaskasihan untuk mengampuni dosa-dosa Daud. Daud sesungguhnya tidak pantas mendapatkannya, tetapi ini tentu saja konsisten dengan karakter Allah dan konsep bahwa cara Tuhan bukanlah cara manusia.

Inti dari apa yang disampaikan oleh Paulus adalah untuk menunjukkan bahwa manusia sesungguhnya tidak dapat berdiri dibawah pengawasan Tuhan. Jika manusia menerima apa yang pantas mereka dapatkan, mereka tidak akan menerima anugerah kebenaran karena perbuatan mereka. Sebaliknya mereka akan masuk ke neraka. Satu-satunya yang dapat menghapus dosa adalah dengan iman datang kepada Yesus Kristus. Kita tidak dapat dan tidak akan dibenarkan dalam pandangan Allah selama kita berpikir bahwa kita dapat memperolehnya atau layak mendapatkannya. Kita tidak akan benar dihadapan Tuhan selama kita menganggap diri kita sebagai orang yang cukup baik. Kita harus melihat bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang berada dibawah penghukuman Allah. Dengan menyadari ketidakmampuan dan ketidakberdayaan kita, maka kita datang kepada Tuhan melalui Yesus Kristus, dan Tuhan akan mengampuni dosa kita, sehingga kita berdiri dihadapan Allah menjadi orang yang dibenarkan.

Berita mulianya adalah bahwa Tuhan telah campur tangan. Di dalam Injil keselamatan melalui Putra-Nya, 

Dia telah memberikan iman – kebenaran yang bermanfaat di hadapan-Nya. Paulus menambahkan bahwa Taurat dan para Nabi membuktikan ketentuan tentang kebenaran ini. Fakta sederhana adalah bahwa kebenaran tersedia, dan kebenaran ini datang melalui iman kepada Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Pembenaran bukanlah suatu proses; itu berarti bahwa Allah menyatakan untuk menjadi orang benar adalah mereka yang percaya kepada Kristus. Tindakan anugerah yang dengannya Allah mengampuni semua dosa dan menerima orang percaya sebagai orang benar karena kebenaran Yesus Kristus. Orang percaya tidak menjadi orang benar karena iman, mereka dinyatakan benar oleh Allah. Orang percaya dibenarkan tanpa sebab atau tanpa alasan, itu adalah karunia, atau seperti yang dikatakan Lenski, “kasih karunia yang murni, berlimpah dan mencengangkan.” Pembenaran kita berasal dari hati Allah yang pengasih.



Jumat, 20 Juli 2018

Kerajaan Allah & Misi Gereja (by Ugik Kristiono)

Kerajaan Allah & Misi Gereja

Dari etimilogi kata secara pemahaman umum; Kerajaan menggambarkan bentuk pemerintahan, kekuasaan, komunitas, sistem, pola seperti selayaknya dengan istilah bangsa atau "nation”. Allah menggambarkan dan mewujudkan suatu pribadi dalam keberperananNya di dalam Kerajaan itu. Kalau didefinisikan secara simple, Kerajaan Allah adalah suatu bentuk pemerintahan dengan pola Kerajaan, yaitu dimana adanya suatu komunitas tertentu dimana Allah sebagai yang empunya Kerajaan itu dan sekaligus yang memerintah dan  berkuasa atas Kerajaan tersebut. Jadi Allah yang berperan sebagai Raja dalam pemerintah Kerajaan itu.

Pemahaman sederhana ini banyak memunculkan pertanyaan dan makna yang tersembunyi; dimana Kerajaan Allah itu, siapa yang menjadi komunitasnya untuk diperintah, bagaimana bentuk dan sistem Kerajaan itu, apa tujuan serta sasaran dari Kerajaan Allah itu, dan hal-hal apa saja yang menyangkut dalam Kerajaan itu, dan sekian pertanyaan lainnya yang memungkinkan dapat muncul.


Belajar dan menggumuli dasar pemahaman biblikal secara utuh dan menyeluruh serta menelusuri makna theologis yang tekstual dalam konteks yang historis dengan terang dan anugerah Allah, merupakan salah satu jalur untuk  mencari makna dan arti dari Kerajaan Allah yang tentu tidak akan melepaskan unsur-unsur informasi yang menunjang dan berperan di dalamnya, baik dari sisi sosio historis, politik, budaya, ekonomi, idealisme, geografis maupun sumber daya dan pengetahuan lainnya yang dapat dianggap dan diangkat sebagai resources of reason. (sumber-sumber alasan).

Kerangka pemikiran Kerajaan Allah selalu terkait dengan waktu (lampau, sekarang dan yang akan datang). Keterkaitan peristiwa sejarah pada masa lampau, sekarang dan yang akan datang tidak dapat di pisahkan. Pada pihak dan sisi Allah, Kerajaan Allah yang ada dan melekat padaNya atau auto basileia (Ia sendiri adalah Kerajaan) adalah dari Kekal sampai Kekal atau dari tidak berawal dan sampai tidak berakhir. Sejarah masa lalu, Alkitab hanya memberikan informasi sebatas awal era penciptaan yang dimulainya kiprah dari Tuhan Allah. Mulai dari situ dalam bentangan sejarah, sepertinya telah dimulai suatu perjalanan dari suatu rencana dan skenario karya Allah, ciptaanNya yang manusia ada didalamnya. Makna Kerajaan,
apakah sesuatu yang dipahami sebagai Kerajaan yang mengalami “polarities” yaitu terkandungnya sifat yang berlawanan. Ada beberapa contoh bentuk yang dilawankan yang berhubungan dengan pemahaman tentang identitas Kerajaan Allah; merupakan sesuatu hal yang berhubungan makna sekarang atau akan datang, Kerajaan Allah, hal yang berhubungan dengan individual atau dengan sosial/komunitas, hal yang rohani dengan jasmani/materi, tindakan Allah lawan tindakan manusia, kemudian hubungan Gereja dengan Kerajaan.

Selain pemahaman dengan istilah Kingdom Polarities tersebut, ada bahasan tentang adanya beberapa bentuk atau model dari Kerajaan Allah;
1. Kerajaan yang akan datang: Kerajaan sebagai harapan masa datang
2. Kerajaan di dalam diri sendiri: Kerajaan sebagai pengalaman rohani di dalam diri sendiri,
3. Kerajaan Sorga : Kerajaan sebagai komunitas mistik / rohani
4. Kerajaan Gerejawi: Kerajaan sebagai institusi Gereja
5. Kerajaan bawah tanah/sebagai perlawanan : Kerajaan sebagai lawan-sistem
6. Kerajaan Theokrasi : Kerajaan sebagai Politik Negara
7. Kerajaan yang mengubah : Kerajaan sebagai komunitas Kristen
8. Kerajaan khayalan : Kerajaan sebagai khayalan keduniawian

Bentuk-bentuk ini muncul dari perkembangan dan pemahaman theologia yang ada, sepaham dan sejalan dengan pengalaman sejarah dari Gereja. Alasan-alasan theologis dan dasar biblikal turut serta melengkapi dari bentuk Kerajaan ini. Masalahnya adalah corak theologis pada penekanan biblikal dari segi ragam yang mendasarinya, sehingga dapat dikatakan landasan theologis-biblikalnya cukup kuat atau rentan dengan kelemahan yang kurang terdukung dengan fakta sosio historis maupun antropologis sampai dengan hubungan pada eskatologis. Model-model ini turut serta mewarnai ragam dari praksis gereja dalam misinya di dunia, terlebih dalam konteks krisis yang dialami Indonesia saat ini, baik yang sudah terbukti dalam sejarah atau yang sedang dan akan berlangsung. Hanya Gereja dan dunia (masyarakat) yang dapat membuktikan dan melihat kenyataan dan implikasi dari model Kerajaan yang dipahami dan diterapkan.

Hingga saat ini, persepsi dan pemahaman tentang Kerajaan Allah kadang masih memberikan makna yang meluas dan beragam bagi Gereja yang memberikan definisi pemahaman dan arti. Perbedaan pemahaman tentang Kerajaan Allah sudah terjadi sejak jaman murid Tuhan Yesus pada Kis. 1:6. Pengertian Kerajaan Allah yang dibicarakan Yesus pada peristiwa sebelumnya, ditangkap/dimengerti oleh para murid kepada suatu pemahaman yang jasmani dan kelihatan bagi kerajaan Israel. Persepsi dan pemahaman tentang Kerajaan Allah dapatlah berbeda, antara dari pihak Allah yang menyampaikan dan membawa berita itu, dengan para murid atupun orang-orang yang mendengar dan menerimanya.. Semenjak misi yang dibawa dan diberitakan Yesus tentang Kerajaan Allah disampaikan, dalam perkembangannya, orang-orang yang
menangkap dan menerima berita itu dari waktu ke waktu mengalami suatu perkembangan. Jadi dapat dikatakan bahwa bisa juga pemahaman konsep tentang Kerajaan Allah itu bagi manusia mengalami perkembangan dari waktu ke waktu sesuai dengan pengalaman dan pemahaman iman dan theologi yang juga terus berkembang dengan dinamikanya.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama, ada dua istilah kata Ibrani yang dipakai untuk menunjuk kepada kata dan pengertian dari Kerajaan Allah; Pertama, kata Malkut Yahweh = Tuhan hadir atau God is Present, kedua, kata Malkut Samayim = Allah adalah Raja.

Dalam perkembangan berikutnya di Perjanjian Baru, dalam istilah Yunani ada dua kata yang sama arti dan maknanya. Pertama; Basileia tou theou = Kerajaan Allah. Kedua; Basileia ton auranon = Kerajaan Sorga. Kedua kata dalam PL dan PB mempunyai makna dan arti yang sama. Kerajaan Allah yang fondasinya dibangun dalam Perjanjian Lama diperkembangkan dan diperkenalkan kepada bangsa-bangsa lain. Berita dan konsep tentang Kerajaan Allah dalam Perjanjian Baru merupakan perkembangan dan kegenapan dalam sejarah Perjanjian Lama. Berita dan deklarasi tentang Kerajaan Allah dalam perjanjian Baru di bawa dan dikerjakan oleh dan dalam diri Yesus Kristus sendiri yang diyakini sebagai kegenapan dari pernyataan Perjanjian Lama. Kerajaan Allah telah datang di dalam Dia dan dengan Dia: Dia adalah auto basileia (Ia sendiri adalah Kerajaan).

Kalau Kerajaan Allah diyakini sebagai suatu bentuk pemerintahan Allah yang kekal yang telah dinyatakan dalam PL, (Yesaya 9:5 dan Dan 7:13-14) rujukan perwujudan dalam PB adalah dalam diri Yesus. Kerajaan Allah disini tidaklah suatu wilayah yang dikuasai dan dipimpin oleh Allah, karena Kerajaan Allah bersifat universal untuk masa lampau, sekarang dan yang akan datang.

Dalam Perjanjian Lama sendiri, perikop-perikop yang memakai kata “kerajaan” dalam arti pemerintahan manusia dapat ditemukan dalam Yeremia 49:34: II Taw. 11:17; 21:1, Ezra 4:5; Nehemia 12:22. Jikalau kata kerajaan itu berarti Kerajaan Allah, maka artinya selalu adalah pemerintahan Allah, kekuasaan Allah, kedaulatan Allah, dan bukan wilayah berlakunya pemerintahan itu. Mazmur 103:19: “Tuhan sudah menegakkan tahtaNya di Sorga dan kerajaanNya berkuasa atas segala sesuatu”.

Untuk memahami Kerajaan Allah secara lengkap dan utuh, perlu melihat dalam kronologis sejarah secara utuh dan menyeluruh, mulai dari PL masa penciptaan sampai dengan PB YesusKristus dan bahkan sampai pada masa eskatologi. Kharakteristik dan dinamika dari kerajaan Allah adalah kebenaran, keadilan, kekudusan dan anugerah. Sedangkan realisasi dan tanda-tanda dari Kerajaan Allah diantaranya adalah; adanya sentuhan Illahi atas umat yang miskin untuk mempunyai Kerajaan Allah (Matius 5:3); Adanya pengampunan dosa yang nyata (markus 2:5); Adanya mujizat dan kesembuhan illahi (Matius 11:5); Kuasa
Setan diusir (Lukas 11:20); Adanya Rahmat Allah dan pembebasan, keadilan, kebenaran, kekudusan serta belas kasihan. Selain itu Alkitab juga mencatat bahwa Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada disini atau ia ada disana ! “Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Lukas 17:20-21).


Sejarah dan kenyataan Kerajaan Allah mencakup dimensi dan sektor hidup dan kehidupan yang cukup luas, hubungan Allah dengan ciptaanNya, tujuan rencana Allah dan kehendakNya, menjadikan kebutuhan akan pemahaman Kerajaan Allah juga harus diinterpretasikan secara utuh, menyeluruh dan mendalam. Menekankan pada satu sisi dalam model atau bentuk tertentu dengan ekstrim tanpa melihat sisi dan dimensi yang lain yang terkandung didalamnya akan menghasilkan nilai interpretasi yang dangkal dan kurang komprehensip. Kalau didaulatkan bahwa Kerajaan Allah adalah adanya kedaulatan, kekuasaan dan pemerintahan Allah dengan semua sifat-sifat dan keberadaan Allah ada di dalamnya yang sekaligus juga menyangkut komunitas manusia yang terlibat dan hidup dalam cakupan Kerajaan itu, maka Kerajaan Allah menyangkut hubungan yang berdimensi vertikal (manusia dengan Allah) dan dimensi horisontal (manusia dengan komunitasnya). Komunitas Kerajaan Allah adalah komunitas orang yang telah dipanggil dan meresponi panggilan itu serta diperbaharui hidupnya, menyambut hukum Allah dan semua peraturan yang diberikan oleh Allah. Allah adalah Raja dari Kerajaan itu dan yang mengatur roda jaman dan memelihara komunitas umatNya.

Komunitas manusia Kerajaan Allah tinggal dan hidup bersama dengan manusia lainnya di dalam dunia yang adalah ciptaan Allah (untuk sekarang ini). Jadi unsur dan segi lainnya adalah bahwa selain pihak Allah sebagai pemegang kendali pemerintahan Kerajaan Allah dan pihak komunitas manusia yang menjadi milik dan umatNya, maka unsur dunia atau bumi (Kosmos atau Ge) dengan segala sistem dan tatanannya juga menjadi bagian dari kehidupan komunitas manusia KerajaanAllah (untuk masa sekarang), kalau sampai Kosmos dan Ge itu belum berakhir dan diganti dengan langit dan bumi baru pada masa eskatologi parausia. Di dalam Kosmos dan Ge itu mengandung dan terdiri dari berbagai unsur bangsa (Laos) termasuk Indoensia yang ada didalamnya.

Memahami rangkaian Kerajaan Allah dalam konteks sejarah masa kelampauan hingga ke kiniannya yang berhubungan dengan komunitas manusia Kerajaan Allah yang masih tinggal dan hidup di dunia, maka rangkaian pemahaman theologis, antropologis beserta dengan kosmologis dan geologis yang berunsur adanya bangsa (Laos), harus menjadi pemahaman dan penekanan yang komprehensip dan simultan.

Dengan demikian sudah menjadi semakin jelas bahwa sepanjang Kerajaan Allah yang sudah dimulai dan masih serta akan terlibat dengan komunitas manusia yang masih tinggal di dunia ini, maka memahami tentang Kerajaan Allah, tidaklah bisa sepihak saja (dalam arti pihak dan oknum yang terlibat di dalamnya), ataupun dalam unsur dan segi-segi tertetu saja (dalam arti elemen-elemen dan unsur yang terkandung dalam ekosistem kehidupan dari Kerajaan itu). Dengan demikian pemahaman tentang Kerajaan Allah tidak hanya sekedar sebagai sesuatu yang jauh dari realitas kekinian untuk jauh dan melambung dalam impian dan angan-angan spiritualitas akan datang (Utopia), namun Kerajaan Allah dapatlah dipahami, dimengerti dan dirasakan akan kehadirannya dalam era sekarang ini di bumi yang telah dan sedang dihidupi manusia. “Datanglah KerajaanMu di bumi seperti di Sorga --- damai di sorga damai di bumi”.

Mempelajari konsepsi dan paradigma di atas maka sudah barang tentu bahwa Kerajaan Allah pada akhirnya masuk dan terlibat dalam makna kehidupan yang realistis; dalam budaya, sosial, ekonomi, bahkan sampai pada politik, idiologi, pengetahuan, teknologi dan semua akses dan sumber daya yang terlibat dan tercakup di dalamnya dengan segala dilematis dan problema yang terjadi. Karena komunitas Kerajaan itu dimasuki dan memasuki kehidupan manusia, maka Kerajaan Allah itu juga memasuki komunitas sosial.

Di dalam komunitas sosial berarti akan adanya solideritas yang menandai kehidupan yang dibangun atas hubungan kepercayaan bersama, cita-cita dan komitmen moral dan kehidupan yang saling menunjang dan saling tergantung satu dengan yang lainnya. Dalam pemahaman ini, lebih realistis dan relevan kalau melihat dan mengungkapkan tentang Kerajaan Allah adalah suatu kerangka dan makna yang holistik, universal dan kompleks.

Dalam Konteks pembahasan ini, diambil dalam satu teks pada Nats Alkitab Injil Lukas 9:2. yang akan dibahas dalam pemahaman proses Hermeneutik yang disebut dengan hermeneutic circle secara praktis, yaitu langkah dari pemahaman presuposisi, presuposisi sampai dengan aplikasi sebagai dasar dari pemahaman tentang konsep pemberitaan Kerajaan Allah. Lukas 9:2; “Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang”. Kitab Injil Lukas merupakan bagian dari salah satu Kitab Injil Sinoptik yang ditulis oleh seorang Tabib yang bernama Lukas seorang Yunani yang juga sebagai sejarawan. Injil Lukas ditulis kurang lebih pada tahun 63 Masehi yang ditujukan kepada Teofilus yang mulia (Lukas 1:1) dengan tujuan untuk menuliskan tentang segala peristiwa yang telah disampaikan oleh mereka yang menjadi saksi mata dan pelayanan Firman untuk menjadi kesaksian, pengajaran dan berita yang sungguh benar untuk meyakinkan Teofilus (Lukas 1:2-4). Lukas menceritakan riwayat Yesus sebagai sejarah dan mengungkap fakta-fakta yang terjadi. Dalam penulisannya, Lukas sangat concern terhadap keadaan-keadaan sosial, terutama perbedaan antara orang miskin dengan orang kaya.

Hal ini sedikit banyak juga dipengaruhi oleh situasi dan kondisi pada saat itu dengan berkembangnya kekuasaan-kekusaan dan kebijakan politik tertentu, yang juga mengakibatkan keadaan perekonomian yang terkondisikan sedemikian rupa. Konteks penulisan Injil Lukas juga hampir sama dengan apa yang terjadi di Indonesia, teks Lukas 9:2 juga sangat relevan bagi Gereja untuk masyarakat Indonesia yang sedang mengalami keterpurukan dalam multi dimensi krisis yang berakibat meningkatnya populasi kemiskinan di Indonesia. Pernyataan dan peristiwa Lukas 9:2, merupakan rangkaian yang pada intinya adalah pengutusan murid Yesus dalam mengembangkan misi Allah. Kalau dilihat dari fakta sejarah, dan jenis penulisan pada teks dan konteks yang ada, tulisan Lukas dalam nats ini dapatlah digolongkan pada suatu yang mengandung unsur didaktik/pengajaran, dimana dalam peristiwa tersebut Yesus juga mempunyai maksud untuk mendidik dan mengajar para muridNya dalam beberapa segi dimensi kehidupan dan pelayanan selain juga mempunyai misi Allah. Peristiwa pelayanan pada nats yang ada tersebut juga mengandung unsur mujizat Allah dalam mengusir roh jahat/setan dan juga mujizat-mujizat kesembuhan atas penyakit-penyakit.

Lukas 9:2 termasuk dalam bagian perikop Lukas 9:1-6, tentang pengutusan atas kedua belas murid oleh Yesus. Pada perikop ini ada beberapa hal yang dapat memberikan suatu arti atau pemahaman, baik secara theologis, sosio historis, antropologis yang realistis dan aplikatif. Peristiwa pemanggilan serta pengutusan kedua belas murid Yesus ini merupakan misi daripada untuk meluaskan pekerjaan yang Yesus lakukan, sekaligus juga Yesus ingin mengajar dan memberi kesempatan latihan praktek kepada para muridNya, seperti yang telah Ia teladankan kepada mereka. Namun demikian Yesus tidaklah hanya mengutus dan membiarkan mereka pergi begitu saja, melainkan Ia juga bertanggung jawab atas peristiwa pengutusan itu.

Yesus memberikan bekal dan pesan kepada murid-muridNya yang diutus, yaitu kuasa/kekuatan/karunia-karunia untuk mengadakan mujizat Allah (power) dan juga memberikan kekuasaan/wibawa/otoritas (authority). Tugas utama yang para murid emban dari Tuhan Yesus adalah memberitakan tentang Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang, seperti yang Ia telah kerjakan dan ajarkan kepada para murid. Kerajaan Allah disini merupakan suatu suasana dan situasi dimana Allah yang memerintah sebagai Raja, dimana disitu ada keselamatan, damai sejahtera dan sukacita surgawi.

Tugas daripada para murid adalah untuk menghadirkan Kerajaan Allah tersebut dimana mereka diutus dan berada, sekaligus juga menyatakan suatu otoritas. Kekuasaan atas setan/roh jahat sebagai lawan daripada Kerajaan Allah (power’s counter) dan menyembuhkan segala penyakit.

Lepas dari teks dan konteks Lukas 9, Kerajaan Allah dalam konsepsi keakanan, hanyalah masih merupakan analisa eksegesis futuris dalam kerangka pemahaman eskatologis. Setiap komunitas manusia Kerajaan Allah mempunyai hak dan kewenangan serta keberanian untuk menginterpretasikan paradigma dan pemahamannya tentang masa depan dari Kerajaan Allah dimana mereka akan ada disana. Hal ini baik yang berhubungan dengan masa kekekalan yang akan datang setelah dunia dan bumi ini lenyap, ataupun masa depan kehidupan komunitas Kerajaan Allah menjelang era kekekalan itu sendiri. Bagaimana komunitas ini bisa sampai kepada masa kekekalan Kerajaan itu, masa-masa apa saja yang harus dilalui, kalau ada tahapan, bagaimana tahapannya, dan sekian banyak kemungkinan dan persitiwa maupun kejadian yang akan menyertai dan mengantar kepada masa kekekalan Kerajaan itu. Ada kemungkinan pendapat bahwa, dalam masa menuju kekekalan Kerajaan Allah, manusia komunitas dari Kerjaan Allah dipersiapkan dengan masa-masa sulit/aniaya (tribullation) atau selain itu juga adanya suatu kekuatan sebagai power’s counter dari eksistensi dan keberlangsungan pemerintahan Kerajaan Allah itu sendiri. power’s counter ini dinamakan sebagai antikrist

Pada masa eskatologi ter-istilah juga adanya masa yang dinamakan masa pengangkatan pada manusia komunitas warga Kerajaan Allah dari kehidupan kosmos atau ge. Yang menjadi asumsi dalam kerangka eksegesis futuris adalah bahwa manusia komunitas Kerajaan Allah dapat mengalami tiga kemungkinan; pertama;mengalami pengangkatan dahulu sebelum datangnya power’s counter, kedua; mengalami pengangkatan pada masa terjadinya power’s counter, dan ketiga; mengalami pengangkatan setelah masa terjadinya power’s counter. Warga komunitas Kerajaan berada dalam kebebasan memberikan pemahaman pada kerangka eksegesis futuris dalam menempatkan diri di era eskatologis secara bertanggung jawab dan konsekuen.

Memberi pemahaman yang lebih fokus lagi bahwa yang menjadi simbol dan identifikasi dari komunitas warga Kerajaan Allah itu adalah orang-orang percaya, yaitu komunitas Kristen yang dikasihi oleh Raja dari Kerajaan Allah itu. Berikutnya bahwa orang percaya atau komunitas Kristen itu disebut sebagai Gereja yang artinya adalah yang telah dipanggil keluar oleh Allah untuk masuk dalam persekutuan komunitas Kerajaan Allah. Allah adalah Allah yang hadir dan terlibat dalam sejarah, dan Kerajaan Allah tidak memisahkan diri dari sejarah. Jadi pada akhirnya, tidak terlalu humanis centristik kalau dapat dikatakan bahwa orang percaya mempunyai keleluasaan untuk memaknai setiap model dan bentuk dari Kerajaan Allah dalam kehidupan sosial, budayanya secara komprehensip dan simultan dalam konteks hidupnya dengan rasa tanggung
jawab kepada diri sendiri, sesama dan terlebih kepada Tuhan Allah. 

Dalam hal ini tidak lepas dari eksistensi Gereja dalam keberadaannya di tengah-tengah bangsa Indonesia yang sedang berkecamuk dalam segala masalah-masalah yang dihadapi. ”Datanglah KerajaanMu di Indonesia melalui GerejaMU”.

Kesimpulan
Kerajaan Allah harus dipahami secara utuh, menyeluruh dan simultan dalam teks dan konteks historis theologis antropologis dengan bentuk dan model-model yang telah disajikan Alkitab dan yang telah diperkenan oleh Allah. Memahami rangkaian Kerajaan Allah dalam konteks sejarah masa kelampauan hingga ke kiniannya yang berhubungan dengan komunitas manusia Kerajaan Allah yang masih tinggal dan hidup di dunia, maka rangkaian pemahaman theologis, antropologis beserta dengan kosmologis dan geologis harus menjadi pemahaman dan penekanan yang komprehensip dan simultan. Secara historis misi Kerajaan Allah dalam Alkitab berarti satu masyarakat yang adil, makmur dan yang memandang semua manusia sederajat adanya.

Menciptakan syalom atau perdamaian, menghadirkan keadilan, kebenaran, kekudusan, pembebasan dan rahmat Ilahi adalah misi utama dari kehadiran Kerajaan Allah. Implikasi riel dari misi Kerajaan Allah adalah peran dan tanggung jawab dari komunitas warga Kerajaan Allah. Yang menjadi simbol dan identifikasi dari komunitas warga Kerajaan Allah itu adalah orang-orang percaya, yaitu komunitas Kristen yang dikasihi oleh Raja dari Kerajaan Allah itu. Orang percaya adalah simbol dari kahadiran dan misi Kerajaan Allah di dunia ini yang dapat menjawab semua tantangan dan kebutuhannya dalam konteks sosial politik di Indonesia sekarang ini.

Jika persekutuan orang percaya dengan Kerajaan Allah telah menjadi nyata dan kuat, apapun yang menjadi problematiknya, kapanpun waktunya, dimanapun tempatnya serta siapapun person dan komunitas pelaku dan sasarannya maka “Datanglah KerajaanMu di bumi (Indonesia) seperti di Surga --- damai di surga damai di bumi (Indonesia)” akan menjadi kenyataan dan dapat akan segera dinikmati oleh semua umat yang tinggal di kosmos dan ge Indonesia milik kepunyaan Yahweh ini.

Jadi secara praktis dapatlah disimpulkan bahwa ; Gereja Indonesia mempunyai peran dalam pembangunan bangsa yang terpuruk dengan krisis multi dimensi yang menimpanya , baik dalam sektor politik, ekonomi, pendidikan, pembangunan masyarakat, hak asasi manusia, agama, komunikasi dan juga keamanan.
Gereja harus mempunyai pemahaman teks dan konteks yang harus dimengerti dengan jelas, kepercayaan akan kuasa dan bimbingan Roh Kudus, Injil mampu merubah kehidupan seseorang dan akan mampu mengaplikasikan sesuai dengan budaya lokal dan juga konteks sosial.

Gereja juga harus berani mengembangkan visi kemanusiaan yang adil dan beradab.
Gereja harus menjadi pelopor gerakan rekonsiliasi dalam semua sektor kemajemukan yang menjadi problem bangsa (agama, suku, golongan, daerah,dll)
Gereja dipanggil untuk terus menerus menyampaikan panggilan pertobatan dan anugerah pengampunan serta hidup baru. Dalam konteks ini, panggilan pertobatan itu tentu meliputi panggilan pertobatan dari korupsi, kolusi, nepotisme, materealisme, hidup yang konsumerisme dan hedonistis.
Gereja dalam kesaksian hidupnya harus menjukkan watak dan pribadi Kristus yang dapat diimplementasikan dan dikenal sebagai orang-orang yang rajin, bekerja keras, ulet, tidak cepat menyerah, hemat jujur dan dapat diandalkan.

Dengan demikian dan dari semua hal ini, dapatlah pada akhirnya kita dapat berkata : Deus Sempermaior : TUHAN yang selalu lebih besar daripada yang dapat kita perhitungkan.

Daftar Pustaka
Bosch, David J. Transformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi misi yang mengubah dan berubah, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1997
Nasution Pontas, Situasi Sosial Politik Indonesia, makalah yang disampiakan dalam panel diskusi di ICDS, Jakarta 4 Oktober 2000.
Paimoen Eddy, Pengantar Teologi & Hermeneutik PB, Diktat Kuliah Matrikulasi ICDS, 2000
Paimoen Eddy, Etika Sosial Politik, Diktat Kuliah ICDS, Jakarta Oktober 2000.
Pixley, George V. Kerajaan Allah: Artinya bagi kehidupan politis, idiologis dan kemasyarakatan,
Terjemahan Alex Tabe, jakarta, BPK Gunung Mulia, 1990
Santoso Iman, Konteks Sospol Dalam Misi di Indonesia, Diktat Kuliah ICDS, Jakarta Oktober 2000.
Samuel, Vinay, And Christ Sugden (eds), Mission as Transformation; atheology of the whole Gospel, Oxford: Regnum, 1999
Singgih Emanuel Gerrit, Iman & Politik dalam era Reformasi di Indonesia, Jakarta, BPKGunung Mulia, 2000
Smith Oswald J. The Challenge Of Missions, London, Purnell and Sons, 1959
Snyder Howard A. Models of the Kingdom, Nashville: Abingdon, 1991
Siwu, Richard A.D. Misi dalam Pandangan Ekumenikal dan Evangelikal Asia, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1996
Thomas Norman E. Teks-teks Klasik tentang Misi dan Kekristenan Sedunia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998



New Testament Exegesis

Harga Rp.110.000,- Pemesanan hub wa : 0816 1189911