Yoh. 4:43-54
“Mata” sering kali menjadi bagian terpenting yang dimiliki manusia untuk melihat bagian luar atau penampilan seseorang. Ketika di rumah, kantor, sekolah atau di manapun, Anda akan sangat tergantung pada organ mata ini. Tetapi ada bagian lain dalam diri manusia yang Allah tanamkan, yaitu “mata-hati.” Orang dapat melihat suatu objek yang sama, tetapi semua orang belum tentu dapat mempercayai bagian terdalam dari objek itu. Itu sebab orang tertentu mungkin saja dapat melihat bagian terdalam itu dengan “mata-hatinya.” Sebaliknya, orang yang lain, belum tentu dapat melihat dengan “mata-hatinya.”
Mengapa orang dari kampung asal Yesus, menolak Dia (ay. 44) ? Bukankah mereka melihat Yesus dengan “mata-kepala” sendiri? Bukan sebuah kebetulan injil Yohanes memasukan kisah ironi ini. Kerangka narasi Yohanes begitu jelas menggiring pembacanya. Dalam awal injil misalnya, Yesus digambarkan sebagai Sang Firman yang datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi mereka menolak Dia. Mereka memandang Yesus sebagai orang biasa dari kampung Nazaret, tidak lebih! Inilah gambaran mata manusia yang terbatas, bahkan yang telah jatuh dalam dosa. Mata ciptaan yang tidak dapat mengenali Sang Penciptanya.
Dalam unit narasi kecil ini, Allah justru sedang menggiring dan melatih “mata-hati” manusia, bahkan “mata-iman” manusia untuk percaya kepada-Nya. Saat itu mata Yesus tertuju kepada seorang perwira kafir yang datang mencari Dia. Ia adalah seorang pegawai Istana. Anaknya sedang sakit keras dan hampir mati (ay.47) Kemudian Yesus berkata padanya, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya (ay. 48).” Tetapi orang itu tidak menyerah dan memohon kembali kepada Yesus agar Ia menyembuhkan anaknya. Yesus pun menjawab dia kata-Nya, “pergilah anakmu telah hidup (ay.50).”
Perwira itu bukan orang Israel, tetapi mendapat anugerah dari Allah. Ia tidak melihat dengan mata fisiknya bahwa anaknya telah sembuh, karena anaknya yang sakit itu ditinggal di rumahnya. Tetapi Alkitab mencatat bahwa, “orang itu percaya apa yang dikatakan Yesus kepadanya (ay. 50).” Dalam perjalanan pulangnya, perwira itu mendapat kabar bahwa anaknya telah sembuh dan hal itu terjadi persis pada saat Yesus menyatakan kesembuhan anak itu! Inilah gambaran seorang perwira tinggi yang mau merendahkan hatinya, rela diajar dan diarahkan iman percayanya oleh Yesus.
Apakah saat ini yang menjadi fokus pandang mata Anda? Mungkin permasalahan yang berat di depan mata, penyakit yang mengerogoti hati, masalah dalam keluarga, pekerjaan atau studi Anda? Datanglah pada Yesus! Jangan menoleh pada pada bebanmu, pandang dan percaya saja pada Yesus. (HL)
Tampilkan postingan dengan label Renungan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan harian. Tampilkan semua postingan
Senin, 08 Juli 2019
Sabtu, 27 Oktober 2018
Ketegaran Hati dan Pertobatan
Lukas 11 : 29-32
"Aku akan percaya kepada Yesus, jika Dia melakukan tanda-tanda ajaib dalam hidupku !” Fenomena spektakuler seringkali menjadi suatu tanda yang sangat diharapkan oleh kebanyakan orang. Demikian pula secara sadar ataupun tidak, manusia suka memaksa Allah untuk memberikan tanda yang menyenangkan hati mereka. Allah tentu tidak dapat diatur oleh hati manusia. Malahan sebaliknya, manusialah yang harusnya mau diatur oleh Allah.
Dalam kisah ini digambarkan kerumunan orang banyak memaksa Yesus untuk memberi tanda ajaib kepada mereka. Ketika orang banyak mengerumuninya, berkatalah Yesus: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat.” Sebutan “angkatan yang jahat” (ay. 29) seharusnya sudah cukup untuk membuat orang yahudi tertegor dan menyadari akan kejahatan hatinya, namun kenyataan berkata lain. Mereka meminta tanda kepada Yesus, tetapi tidak ada tanda lain, selain tanda Yunus yang diberikan oleh Yesus. Lalu apa maksudnya tanda Yunus di sini?
Tanda Yunus mengingatkan kita kepada kisah pertobatan di Niniwe. Yunus pada awalnya melarikan diri ke kota lain, karena ia menganggap bangsa Niniwe tidak layak untuk mendengar firman Allah dan pantas untuk dimurkai saja. Tetapi dalam perjalanan ke Tarsis Allah justru menghajar Yunus melalui badai yang dialami perahu yang ditumpanginya. Allah kemudian menghukum Yunus dalam perut ikan selama 3 hari. Tanda Yunus ini sesungguhnya menggambarkan penyaliban dan kebangkitan Yesus. Seperti Yunus yang tinggal dalam perut ikan selama tiga hari, demikian pula Yesus akan tinggal dalam rahim bumi 3 hari lamanya. Pada hakekatnya, pertobatan sejatinya adalah hati yang semakin menyadari keberdosaan diri dan memandang anugerah pengampunan oleh darah Yesus yang mahal itu.
Zaman Niniwe disebut sebagai zaman yang kejam, sejarah mencatat sadisnya penduduk Niniwe yang tidak bisa membedakan tangan kanan dan tangan kiri. Kendatipun demikian pertobatan itu terjadi tanpa adanya tanda-tanda spektakuler yang Yunus lakukan. Hati penduduk Niniwe hancur ketika mendengar firman Allah yang menegor Niniwe dan penduduk itu bertobat. Pada sisi yang lain, kerumunan orang banyak yang hidup di zaman Tuhan Yesus meminta tanda-tanda ajaib, tetapi justru berkeras hati dan tidak mau bertobat. Sungguh Ironis!
Kitapun hidup di zaman yang semakin jahat. Zaman now adalah bukan zaman primitif, tetapi kecanggihan zaman tidak otomatis menurunkan tingkat kejahatan yang ada. Kita melihat berbagai kejahatan muncul di mana-mana, bahkan dengan menggunakan “kecanggihan teknologi.” Kata “pertobatan” sepertinya menjadi sesuatu yang sudah usang, kuno dan primitif. Kiranya Tuhan berbelas kasihan atas kita dan negeri, di mana kita hidup di zaman ini. Kematian dan kebangkitan Yesus seharusnya sudah cukup menjadi dasar iman kita, dan itu lebih dari sekedar tanda.
(HL)
"Aku akan percaya kepada Yesus, jika Dia melakukan tanda-tanda ajaib dalam hidupku !” Fenomena spektakuler seringkali menjadi suatu tanda yang sangat diharapkan oleh kebanyakan orang. Demikian pula secara sadar ataupun tidak, manusia suka memaksa Allah untuk memberikan tanda yang menyenangkan hati mereka. Allah tentu tidak dapat diatur oleh hati manusia. Malahan sebaliknya, manusialah yang harusnya mau diatur oleh Allah.
Dalam kisah ini digambarkan kerumunan orang banyak memaksa Yesus untuk memberi tanda ajaib kepada mereka. Ketika orang banyak mengerumuninya, berkatalah Yesus: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat.” Sebutan “angkatan yang jahat” (ay. 29) seharusnya sudah cukup untuk membuat orang yahudi tertegor dan menyadari akan kejahatan hatinya, namun kenyataan berkata lain. Mereka meminta tanda kepada Yesus, tetapi tidak ada tanda lain, selain tanda Yunus yang diberikan oleh Yesus. Lalu apa maksudnya tanda Yunus di sini?
Tanda Yunus mengingatkan kita kepada kisah pertobatan di Niniwe. Yunus pada awalnya melarikan diri ke kota lain, karena ia menganggap bangsa Niniwe tidak layak untuk mendengar firman Allah dan pantas untuk dimurkai saja. Tetapi dalam perjalanan ke Tarsis Allah justru menghajar Yunus melalui badai yang dialami perahu yang ditumpanginya. Allah kemudian menghukum Yunus dalam perut ikan selama 3 hari. Tanda Yunus ini sesungguhnya menggambarkan penyaliban dan kebangkitan Yesus. Seperti Yunus yang tinggal dalam perut ikan selama tiga hari, demikian pula Yesus akan tinggal dalam rahim bumi 3 hari lamanya. Pada hakekatnya, pertobatan sejatinya adalah hati yang semakin menyadari keberdosaan diri dan memandang anugerah pengampunan oleh darah Yesus yang mahal itu.
Zaman Niniwe disebut sebagai zaman yang kejam, sejarah mencatat sadisnya penduduk Niniwe yang tidak bisa membedakan tangan kanan dan tangan kiri. Kendatipun demikian pertobatan itu terjadi tanpa adanya tanda-tanda spektakuler yang Yunus lakukan. Hati penduduk Niniwe hancur ketika mendengar firman Allah yang menegor Niniwe dan penduduk itu bertobat. Pada sisi yang lain, kerumunan orang banyak yang hidup di zaman Tuhan Yesus meminta tanda-tanda ajaib, tetapi justru berkeras hati dan tidak mau bertobat. Sungguh Ironis!
Kitapun hidup di zaman yang semakin jahat. Zaman now adalah bukan zaman primitif, tetapi kecanggihan zaman tidak otomatis menurunkan tingkat kejahatan yang ada. Kita melihat berbagai kejahatan muncul di mana-mana, bahkan dengan menggunakan “kecanggihan teknologi.” Kata “pertobatan” sepertinya menjadi sesuatu yang sudah usang, kuno dan primitif. Kiranya Tuhan berbelas kasihan atas kita dan negeri, di mana kita hidup di zaman ini. Kematian dan kebangkitan Yesus seharusnya sudah cukup menjadi dasar iman kita, dan itu lebih dari sekedar tanda.
(HL)
Minggu, 19 Agustus 2018
Apakah aku orang yang berbahagia?
Lukas 11:27-28
Ibu, bunda, mama atau sejumlah sebutan mulia lainnya adalah merujuk kepada sosok wanita yang penting dalam hidup setiap insan. Dalam kisah ini, terkesan orang banyak begitu menghormati ibu Yesus. Seorang perempuan di antara mereka sampai berkata: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau.”Hal yang nampak janggal adalah ketika Yesus menjawab pujian ini dengan mengatakan: “Yang berbahagia adalah mereka yang mendengarkan firman dan yang memeliharanya.”
Penggalan ayat ini bukan untuk menunjukan bahwa Yesus kurang menghormati ibunya. Ia justru dalam banyak kesempatan mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, khususnya seorang ibu. Bahkan Ia pun sampai akhir hidupnya di kayu salib tetap memperhatikan ibunya dan meminta Yohanes untuk merawatnya. Lalu apa yang menjadi penekanan yang akan kita renungkan dari kisah ini?
Dalam konteks ayat di atas dan di bawah kisah ini akan membantu kita melihat mengapa Yesus mengatakan hal demikian. Pengajaran Tuhan Yesus sebelum penggalan ayat ini adalah menggambarkan tentang keadaan manusia yang lebih buruk setelah dikuasai tujuh roh lain yang lebih jahat (ay.24-26). Sedangkan konteks ayat sesudah penggalan ayat ini adalah tentang keadaan orang Israel yang lebih buruk karena kedegilan hati mereka. Yesus menyebut mereka sebagai “angkatan yang jahat ” (ay 29-32).
Jawaban Yesus begitu mendalam.
Kata “berbahagialah Ibu” justru dijawab dengan kata “yang berbahagia adalah mereka…” Kita melihat bahwa sebutan kata “rahim ibu” dalam bentuk tunggal beralih kepada sebutan “mereka” dalam bentuk jamak. Lebih lanjut lagi Yesus memperjelas sebutan “mereka” yang dimaksud yaitu “mereka yang mendengarkan firman dan yang memeliharanya.”
Inilah penekanan yang sesungguhnya. Yesus sedang membedah pikiran dan hati mereka yang tidak mau bertobat, sekalipun penampilan mereka begitu religius. Perkataan pujian yang terdengar di telinga Yesus, tidak meredupkan isi hati Allah agar umat-Nya bertobat dan kembali kepada firman-Nya.
“Mendengarkan dan memelihara firman.” Bukankah perintah ini begitu khatam dan mendarah daging dalam kehidupan orang Yahudi? Kelihatannya sih benar! Dalam kehidupan agamawi orang yahudi, itulah yang muncul keluar dalam permukaan hidup mereka. Tetapi Yesus tahu apa yang ada di dalam hati dan pikiran mereka. Itulah sebabnya Ia mendesak mereka untuk segera bertobat dan kembali kepada firman-Nya.
Kita pun tidak lebih baik dari orang yahudi saat itu. Di zaman now, firman Tuhan dengan mudah dapat kita temukan dalam Alkitab. Bahkan banyak aplikasi Alkitab dapat kita download dengan berbagai versi, mulai dari bahasa ibu hingga bahasa asli. Pada akhirnya persis seperti perkataan Yesus yang menohok jiwa kita: “yang berbahagia adalah mereka yang mendengarkan dan memelihara firman.” Inilah isi hati Allah. Setiap hari kita perlu kembali kepada firman-Nya, di situlah kita akan menjadi utuh, sebagai bagian yang terhisap dalam keluarga kerajaan Allah.
(HL)
Ibu, bunda, mama atau sejumlah sebutan mulia lainnya adalah merujuk kepada sosok wanita yang penting dalam hidup setiap insan. Dalam kisah ini, terkesan orang banyak begitu menghormati ibu Yesus. Seorang perempuan di antara mereka sampai berkata: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau.”Hal yang nampak janggal adalah ketika Yesus menjawab pujian ini dengan mengatakan: “Yang berbahagia adalah mereka yang mendengarkan firman dan yang memeliharanya.”
Penggalan ayat ini bukan untuk menunjukan bahwa Yesus kurang menghormati ibunya. Ia justru dalam banyak kesempatan mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, khususnya seorang ibu. Bahkan Ia pun sampai akhir hidupnya di kayu salib tetap memperhatikan ibunya dan meminta Yohanes untuk merawatnya. Lalu apa yang menjadi penekanan yang akan kita renungkan dari kisah ini?
Dalam konteks ayat di atas dan di bawah kisah ini akan membantu kita melihat mengapa Yesus mengatakan hal demikian. Pengajaran Tuhan Yesus sebelum penggalan ayat ini adalah menggambarkan tentang keadaan manusia yang lebih buruk setelah dikuasai tujuh roh lain yang lebih jahat (ay.24-26). Sedangkan konteks ayat sesudah penggalan ayat ini adalah tentang keadaan orang Israel yang lebih buruk karena kedegilan hati mereka. Yesus menyebut mereka sebagai “angkatan yang jahat ” (ay 29-32).
Jawaban Yesus begitu mendalam.
Kata “berbahagialah Ibu” justru dijawab dengan kata “yang berbahagia adalah mereka…” Kita melihat bahwa sebutan kata “rahim ibu” dalam bentuk tunggal beralih kepada sebutan “mereka” dalam bentuk jamak. Lebih lanjut lagi Yesus memperjelas sebutan “mereka” yang dimaksud yaitu “mereka yang mendengarkan firman dan yang memeliharanya.”
Inilah penekanan yang sesungguhnya. Yesus sedang membedah pikiran dan hati mereka yang tidak mau bertobat, sekalipun penampilan mereka begitu religius. Perkataan pujian yang terdengar di telinga Yesus, tidak meredupkan isi hati Allah agar umat-Nya bertobat dan kembali kepada firman-Nya.
“Mendengarkan dan memelihara firman.” Bukankah perintah ini begitu khatam dan mendarah daging dalam kehidupan orang Yahudi? Kelihatannya sih benar! Dalam kehidupan agamawi orang yahudi, itulah yang muncul keluar dalam permukaan hidup mereka. Tetapi Yesus tahu apa yang ada di dalam hati dan pikiran mereka. Itulah sebabnya Ia mendesak mereka untuk segera bertobat dan kembali kepada firman-Nya.
Kita pun tidak lebih baik dari orang yahudi saat itu. Di zaman now, firman Tuhan dengan mudah dapat kita temukan dalam Alkitab. Bahkan banyak aplikasi Alkitab dapat kita download dengan berbagai versi, mulai dari bahasa ibu hingga bahasa asli. Pada akhirnya persis seperti perkataan Yesus yang menohok jiwa kita: “yang berbahagia adalah mereka yang mendengarkan dan memelihara firman.” Inilah isi hati Allah. Setiap hari kita perlu kembali kepada firman-Nya, di situlah kita akan menjadi utuh, sebagai bagian yang terhisap dalam keluarga kerajaan Allah.
(HL)
Jumat, 10 Agustus 2018
Pernikahan
Pernikahan, adalah suatu proses pertumbuhan bersama dimana para pasangan dalam perkawinan harus menyerahkan diri mereka sebagai penolong satu sama lain melalui hubungan mereka dengan Kristus.
Karakter seperti Kristus adalah kunci untuk menikah dan diwujudkan di dalam pernikahan.
Telah banyak kita dengar tentang orang-orang yang bercerai karena mereka menjadi yakin bahwa pasangan mereka dikatakan bukanlah orang yang sempurna bagi mereka.
Ini tidak masuk akal, dan hanya sebagai sebuah alasan. Jika kedua belah pihak berkomitmen pada Kristus (sama seperti dengan yang diucapakan dalam janji pernikahan), hubungan apa pun dapat berubah menjadi hubungan "pasangan yang benar" di hadapan Tuhan.
Beberapa ayat untuk direnungkan,
1 Tesalonika 4:3-5 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan,
bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah,
Efesus 5:33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
Matius 19:5-6 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
1 Petrus 3:7 Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.
God bless us
Karakter seperti Kristus adalah kunci untuk menikah dan diwujudkan di dalam pernikahan.
Telah banyak kita dengar tentang orang-orang yang bercerai karena mereka menjadi yakin bahwa pasangan mereka dikatakan bukanlah orang yang sempurna bagi mereka.
Ini tidak masuk akal, dan hanya sebagai sebuah alasan. Jika kedua belah pihak berkomitmen pada Kristus (sama seperti dengan yang diucapakan dalam janji pernikahan), hubungan apa pun dapat berubah menjadi hubungan "pasangan yang benar" di hadapan Tuhan.
Beberapa ayat untuk direnungkan,
1 Tesalonika 4:3-5 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan,
bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah,
Efesus 5:33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
Matius 19:5-6 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
1 Petrus 3:7 Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.
God bless us
Rabu, 08 Agustus 2018
Medan Pertempuran
Lukas 11:15-26
Pernahkah kita difitnah? Pengalaman ini bisa saja terjadi kepada kepada orang percaya. Yesus sendiri pun difitnah. Walaupun ia baru saja menolong orang yang sedang kerasukan roh jahat, tetapi Ia justru difitnah secara keji. Orang-orang yang selalu membuntuti dan mencari-cari kesalahan-Nya, berkata: “Ia mengusir setan dengan kuasa penghulu setan!” Yesus tetap tenang menghadapi fitnah keji ini. Ia adalah Allah yang membungkam kelicikan setan dengan cara menjungkirbalikan tuduhan picik itu. Jawaban “skak-mat” dari Yesus kepada mereka yang memfitnah Dia (ay.17-19).
Lalu apa yang dapat kita renungkan dari kisah ini? Bukan sebuah kebetulan jika penulisan kisah ini diapit oleh pengajaran Tuhan Yesus kepada para muridnya tentang hal berdoa dan kembalinya roh jahat. Apa yang ditekankan dalam pengajaran tentang hal berdoa? Bahwa jika bapa di dunia akan memberi yang terbaik kepada anak-anaknya, apalagi Bapa yang di sorga. Bapa akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya (11:13).
Lalu apa yang ditekankan dari pengajaran tentang kembalinya roh jahat? Pengajaran ini menjadi sebuah peringatan penting bahwa hati manusia akan menjadi tempat pertempuran sengit antara Roh Kudus dan roh jahat. Sedikitnya satu hal dapat kita renungkan secara pribadi dari kisah ini, bahwa pertempuran rohani akan terus terjadi dalam hati manusia. Tidak ada “zona abu-abu” bagi “kursi” di hati manusia. Allah atau roh jahat yang akan menguasainya, hanya itu pilihannya! Manusia yang mengira bahwa hatinya adalah miliknya pribadi, justru menjadi “kursi” yang empuk bagi iblis. Sadar ataupun tidak, hati manusia menjadi tempat pertempuran yang sengit untuk kita mencintai Yesus atau sesuatu di luar Yesus.
Ketika meneropong ke dalam hati kita, ternyata hal terberat adalah bukan ketika fitnah itu dilontarkan dari mulut seseorang. Pertempuran terbesar adalah ada dalam hati dan pikiran kita. Bagaimana pikiran dan hati kita dalam menghadapi serangan-serangan itu. Pada akhirnya, kita pun menyadari betapa lemah dan rapuhnya kita. Semakin kuat kita mengganggap diri mampu, semakin lemah kita akan terjatuh. Itulah sebabnya, pengajaran ini terapit dalam konteks berdoa, memberi hati dan pikiran kita untuk dikuasai oleh Roh Kudus. Kiranya Roh kudus beserta dalam pertempuran hidup kita, sehingga pikiran, perkataan, perbuatan kita tidak menjadi zona bagi setan, tetapi justru menjadi alat bagi Allah untuk menjungkirbalikan kepicikan dunia.
(HL)
Pernahkah kita difitnah? Pengalaman ini bisa saja terjadi kepada kepada orang percaya. Yesus sendiri pun difitnah. Walaupun ia baru saja menolong orang yang sedang kerasukan roh jahat, tetapi Ia justru difitnah secara keji. Orang-orang yang selalu membuntuti dan mencari-cari kesalahan-Nya, berkata: “Ia mengusir setan dengan kuasa penghulu setan!” Yesus tetap tenang menghadapi fitnah keji ini. Ia adalah Allah yang membungkam kelicikan setan dengan cara menjungkirbalikan tuduhan picik itu. Jawaban “skak-mat” dari Yesus kepada mereka yang memfitnah Dia (ay.17-19).
Lalu apa yang dapat kita renungkan dari kisah ini? Bukan sebuah kebetulan jika penulisan kisah ini diapit oleh pengajaran Tuhan Yesus kepada para muridnya tentang hal berdoa dan kembalinya roh jahat. Apa yang ditekankan dalam pengajaran tentang hal berdoa? Bahwa jika bapa di dunia akan memberi yang terbaik kepada anak-anaknya, apalagi Bapa yang di sorga. Bapa akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya (11:13).
Lalu apa yang ditekankan dari pengajaran tentang kembalinya roh jahat? Pengajaran ini menjadi sebuah peringatan penting bahwa hati manusia akan menjadi tempat pertempuran sengit antara Roh Kudus dan roh jahat. Sedikitnya satu hal dapat kita renungkan secara pribadi dari kisah ini, bahwa pertempuran rohani akan terus terjadi dalam hati manusia. Tidak ada “zona abu-abu” bagi “kursi” di hati manusia. Allah atau roh jahat yang akan menguasainya, hanya itu pilihannya! Manusia yang mengira bahwa hatinya adalah miliknya pribadi, justru menjadi “kursi” yang empuk bagi iblis. Sadar ataupun tidak, hati manusia menjadi tempat pertempuran yang sengit untuk kita mencintai Yesus atau sesuatu di luar Yesus.
Ketika meneropong ke dalam hati kita, ternyata hal terberat adalah bukan ketika fitnah itu dilontarkan dari mulut seseorang. Pertempuran terbesar adalah ada dalam hati dan pikiran kita. Bagaimana pikiran dan hati kita dalam menghadapi serangan-serangan itu. Pada akhirnya, kita pun menyadari betapa lemah dan rapuhnya kita. Semakin kuat kita mengganggap diri mampu, semakin lemah kita akan terjatuh. Itulah sebabnya, pengajaran ini terapit dalam konteks berdoa, memberi hati dan pikiran kita untuk dikuasai oleh Roh Kudus. Kiranya Roh kudus beserta dalam pertempuran hidup kita, sehingga pikiran, perkataan, perbuatan kita tidak menjadi zona bagi setan, tetapi justru menjadi alat bagi Allah untuk menjungkirbalikan kepicikan dunia.
(HL)
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Andrew Brake Harga Rp.150.000,- menjadi Rp.130.000,- Pemesanan hubungi wa : 08161189911
-
KRISTOLOGI Pernyataan tegas Yesus Kristus, ego eimi dalam Yohanes 8:58 yang berbunyi : ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum A...